Bukti Jose Mourinho Mengerti Tentang Manchester United (Part I)

Penulis: Eka Azwin Lubis

Bukti Jose Mourinho Mengerti Tentang Manchester United (Part I)

Jose Mourinho (Give Me Sport)

Rabu, 9 Oktober 2019 | 09:05

Analisadaily - Suara penolakan terhadap Ole Gunnar Solskjaer mulai bergemuruh di Old Trafford. Betapa tidak, hingga pekan kedelapan Manchester United masih tercecer di peringkat 12 klasemen Liga Premier dengan hanya meraih dua kemenangan.

Jika mengingat ke belakang, keputusan petinggi United memecat Jose Mourinho pada Desember 2018 bukanlah langkah yang tepat.

Saat itu Setan Merah berada di urutan keenam di Liga Premier dan berselisih 19 poin dari Liverpool yang memimpin klasemen. Namun Mourinho sukses mempersembahkan Piala Liga dan Liga Europa di musim sebelumnya.

Berada di urutan keenam Liga Premier adalah posisi yang akan dipilih penggemar United saat ini daripada hanya berjarak dua poin dari penghuni zona degradasi.

Mourinho kerap diejek karena keputusan dan komentar-komentarnya ketika menjadi pelatih United. Namun 10 bulan setelah kepergiannya, publik mulai sadar ternyata dia sering melakukan langkah yang tepat.

Setidaknya ada beberapa hal penting yang pernah dilakukan Mourinho selama dua setengah tahun menangani Manchester United. Berikut ulasannya:

1. Finis kedua di musim 2017/18

Mourinho meyakini bahwa membawa Setan Merah meraih runner-up di Liga Premier musim 2017/18 merupakan salah satu pencapaian terbaiknya.

"Saya terus mengatakan, berpikir, dan merasakan bahwa musim yang kedua adalah salah satu pencapaian terbesar saya dalam pertandingan," kata Mourinho, dilansir dari GiveMeSport, Rabu (9/10).

Pelatih berusia 56 tahun itu telah memenangkan gelar liga di Portugal, Inggris, Italia dan Spanyol, termasuk membawa Inter Milan meraih treble winner pada 2009/10. Namun baginya membawa United finis kedua di musim 2017/18 merupakan salah satu yang terbaik.

(Give Me Sport)

(The Independent)

"Saya terus mengatakan ini karena orang tidak tahu apa yang terjadi di balik layar," tambahnya.

Saat itu United cukup perkasa di atas Tottenham, Liverpool, Chelsea, apalagi Arsenal. Sebab dalam empat musim sebelumnya United selalu finis di luar tiga besar.

Skuat yang ada saat ini juga tidak terlalu berbeda dengan yang dimiliki Mourinho di musim 2017/18.

2. Scott McTominay layak bermain

Mourinho sering dikritik karena tidak memberi banyak kesempatan bagi pemain muda untuk tampil. Namun dia selalu memprioritaskan Scott McTominay yang saat itu masih berusia 21 tahun.

Gelandang asal Skotlandia itu diberi waktu untuk tampil reguler di lini tengah. Mourinho bahkan menjadikannya contoh bagi seluruh anak asuhnya.

"Dia adalah orang yang melakukan segalanya," puji Mourinho.

"Dia memulai musim di akademi dan mengakhiri musim bermain di pertandingan besar, di derby Liga Premier dan pertandingan Liga Champions, sambil menjadi pemain penting bagi skuat," ungkapnya.

Scott McTominay (Give Me Sport)

Scott McTominay (Give Me Sport)

"Aku pikir anak ini tidak bisa pulang tanpa hadiah, jadi dia akan mendapatkan hadiahku."

Benar saja, kini McTominay tetap berada di tim utama, tampil di setiap pertandingan liga dan menjadi sosok yang sangat populer di kalangan penggemar United karena sikap dan penampilannya.

3. Marcus Rashford bukan striker

Kedatangan Zlatan Ibrahimovic dan Romelu Lukaku meningkatkan kekhawatiran terkait posisi Marcus Rashford.

Banyak penggemar yang ingin melihatnya bermain sebagai second striker, tetapi keputusan Mourinho mendatangkan dua pemain itu membuat posisinya terancam. Alhasil, Rashford lebih sering didorong ke sayap.

Lalu apakah Rashford bisa membuktikan bahwa ia pantas bermain sebagai striker?

Pemain asal Inggris itu hanya mencetak 18 gol dalam 59 pertandingan liga saat tampil sebagai penyerang tengah. Itu bukan sesuatu yang produktif.

Bahkan Harry Maguire memiliki lebih banyak sentuhan di kotak penalti Newcastle daripada Rashford saat United kalah 1-0 hari Minggu kemarin.

Marcus Rashford ()

Marcus Rashford (Give Me Sport)

"Saya tidak mengatakan dia tidak akan pernah menjadi nomor sembilan, dia bisa menjadi nomor sembilan yang berbahaya terutama jika oposisi tidak pragmatis, tidak dekat dan memberikan ruang untuk menyerang. Dia bisa berbahaya dalam transisi," ujar Mourinho menyikapi posisi Rashford.

"Tetapi ketika Manchester United bermain melawan tim-tim yang menutup pintu, membawa bus (pertahanan) ganda, dia bukan seorang striker yang bermain dengan punggungnya ke gawang. Dia bukan target man, dia tidak mencetak gol sebanyak yang seharusnya dilakukan striker," tegas pelatih asal Portugal itu.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar