Tanpa Pelatih, Srunita Raih Perak Pada Kejuaraan Karate di Belanda

Tanpa Pelatih, Srunita Raih Perak Pada Kejuaraan Karate di Belanda

Srunita Sari Sukatendel.

(aa/rzp)

Rabu, 21 Maret 2018 | 17:00

Analisadaily (Medan) - Karateka putri asal Sumatera Utara, Srunita Sari Sukatendel, berhasil meraih medali perak pada World Karate 1-Premiere League 1 2018 di Rotterdam, Belanda, baru-baru ini.

Pada partai final di komite 50 kg putri, Srunita harus mengakui ketangguhan karateka Jepang, Tadako Ayana dengan skor 1-4. Srunita menjadi satu-satunya karateka Indonesia yang mampu meraih medali. Sedangkan tiga atlet lainnya sama sekali gagal menyumbangkan medali.

Meski hanya meraih perak, hasil ini sudah cukup baik. Mengingat sejak kedatangan Srunita Sari dan tiga atlet lainnya ke Rotterdam, tanpa dampingan tim pelatih, manager, bahkan pengurus PB Forki. Wajar, karena status keempat karateka tersebut saat ini tidak lagi berstatus atlet Pelatnas.

Menurut Srunita, hasil ini sudah cukup maksimal. Torehan ini juga kembali menjaga peluang atlet kelahiran 28 Agustus 1992 ini bisa berlaga di Olimpiade 2020 Tokyo. Sebab, Srunita sempat absen di dua pelaksanaan Karate 1-Premiere League sebelumnya, di Prancis dan Uni Emirat Arab.

"Jadi kemarin sudah sempat ranking tujuh dunia. Dua kali saya absen di seri Premiere League. Baru kali ini saya ikut. Mungkin seminggu lagi hasilnya bisa dilihat untuk ranking ke berapa saya sekarang," katanya, Rabu (21/3).

Diakui karate peraih emas SEA Games 2017 ini, tidak didampingi pelatih dan manager memang berpengaruh bagi penampilannya. Terutama kehadiran mereka tentu bisa menambah motivasi baginya sebelum bertarung di arena.

"Sebenarnya saya lebih senang kalo ada yang dampingi. Kalai ada pelatih rasanya lebih berani dan semuanya lebih baik. Kalau memang tidak ada, harus tetap berjuang sendiri sama teman-teman," ungkapnya.

Meski tanpa pelatih dan pengurus, Srunita cs tetap mendapat dampingan dari Sensei (pelatih) asal Belanda, Patrick Van Dalen. Patrick secara sukarela mendampingi Srunita cs.

"Kehadiran beliau hanya mendampingi, bukan sebagai pelatih. Dia itu, kemarin kasihan lihat kami. Karena sejak main pertama sampai di final tidak ada pelatih yang dampingi kami," paparnya.

"Bertanding itu perlu card. Jadi, dia mau jadi card kami. Karena tugas card bisa protes kalau ada pukulan masuk yang tidak dihitung. Jadi, karena tidak ada yang angkat kartu, dia kasihan lihat kami. Jadinya, dia bilang akhirnya mau bantu kami,” tambahnya.

(aa/rzp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar